Tampilkan postingan dengan label buahatiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buahatiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2010

Ortu Protektif Membuat Anak jadi Liar Penulis : Yulia Permata Sari


TIDAK sedikit orang tua yang tanpa sadar memperlakukan anak dengan cara keliru sehingga berdampak buruk terhadap perkembangan psikologisnya. Hal-hal kecil yang dilakukan seperti memarahi anak di hadapan orang lain, terlalu protektif, sering menghukum dan membatasi hubungan sosialnya bisa menghancurkan kehidupan anak.

Berikut ini adalah sejumlah cara memperlakukan anak yang sebaiknya dihindari oleh setiap orang tua:

1. Memarahi anak di depan publik
Jika anak melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas, wajar jika Anda ingin membuatnya disiplin. Mengajarkan kedisiplinan kepada anak memang sangat krusial, tetapi apakah perlu memarahinya di hadapan orang lain seperti tetangga atau teman-temannya? Lebih baik, tunggu sampai Anda berada di tempat yang lebih terjaga privasinya sebelum menasihati anak. Jika tidak, anak akan menjadi penakut setiap waktu dan orang-orang yang menyaksikan Anda memarahinya pun akan merasa risih.

2. Memberi contoh buruk
Jangan mengajarkan ini dan itu kepada anak jika Anda tidak mampu memberikan contoh yang baik kepadanya. Coba bayangkan, apa yang dipikirkan anak ketika Anda menasihatinya agar tidak berbohong, sementara Anda sendiri justru melakukan hal sebaliknya. Contoh, suatu hari anak mengangkat telepon yang ternyata ditujukan untuk Anda. Akan tetapi, karena malas menerima telepon itu, Anda meminta anak mengatakan kepada si penelepon bahwa Anda tidak berada di rumah.

3. Menghancurkan harapan anak
Pernahkah anda menghancurkan harapan yang dibangun anak, atau mengatakan kepadanya bahwa cita-citanya untuk menjadi presiden atau superstar tidak realistis? Sebagai orang tua yang baik, sudah seharusnya Anda memberikan dorongan kepada anak untuk melakukan yang terbaik dalam bidang apa pun yang diinginkannya.

4. Terlalu protektif
Anak-anak benci ketika orang tua mereka menempel terus seperti lem dan terlalu protektif terhadap mereka. Hal itu membuat mereka merasa seperti tidak dipercaya. Selain itu, proteksi yang berlebihan juga justru membuat anak menjadi liar ketika akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman orang tua.

5. Membatasi hubungan
Banyak orang tua merasa tidak nyaman mengizinkan anak berpacaran sebelum mereka berusia minimal 17 tahun. Akan tetapi, hal itu sesungguhnya sebuah proses pendewasaan yang harus mereka jalani. Bagi anak-anak, hubungan asmara yang tumbuh pun kemungkinan besar tidak lebih dari sekadar cinta monyet. Oleh karena itu, tidak perlu langsung panik ketika anak mengatakan ingin memiliki seorang pacar.

6. Salah memberi hukuman
Tidak sedikit orang tua menghukum anak dengan cara yang keliru ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak dapat diterima. Misalnya, Anda menghukum anak tidak boleh bermain karena mendapatkan nilai jelek saat ulangan, atau menghukumnya dengan tidak memperbolehkan menggunakan telepon karena ia terlambat pulang ke rumah setelah bermain dengan teman-temannya. Akan tetapi, yakinkah Anda semua konsekuensi tersebut benar-benar mampu menyelesaikan masalah? Apakah tidak lebih baik jika Anda berbicara dulu kepada anak hingga mengetahui dengan jelas sumber masalah, daripada memberikannya hukuman keras yang tidak relevan?

7. Memaksa menuruti kemauan
Anak adalah individu yang berbeda dengan Anda, yang memiliki keindahan dan kelebihannya sendiri. Oleh karena itu, jangan pernah memaksa anak mengikuti jejak Anda, misalnya dalam hal pendidikan atau pilihan karier di masa depan. Sebaiknya, bimbing anak untuk memaksimalkan segala bakat dan kelebihannya agar menjadi yang terbaik. (OL-08)

www.mediaindonesia.com

10 Tip Memilih Mainan Aman untuk Balita Penulis : Yulia Permata Sari


MEMILIH mainan yang tepat dan aman untuk anak balita bisa menjadi pekerjaan menantang bagi orang tua. Betapa tidak, begitu melangkahkan kaki ke dalam seksi mainan di sebuah department store, Anda langsung disambut dengan berbagai jenis mainan yang ditata teratur di rak pajangan. Jika demikian, orang tua mana yang tidak akan pusing dibuatnya?

Mainan untuk anak seharusnya bersifat menyenangkan dan menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang sang buah hati. Akan tetapi, jika tidak cermat memilih, mainan tersebut bisa membahayakan jiwa anak. Risiko terbesar bagi anak berusia di bawah tiga tahun adalah tersedak, karena mereka cenderung suka memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya. Inilah alasan mengapa Anda sebagai orangtua juga harus mempertimbangkan faktor usia dalam memilih mainan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap orang tua untuk mengawasi mainan apa yang dimainkan anaknya. Berikut ini adalah sejumlah panduan mendasar yang sebaiknya Anda perhatikan saat membeli mainan anak:

1. Jika mainan terbuat dari kain, pilih yang memiliki label flame resistant atau flame retardant. Untuk mainan yang bewarna-warni, periksa apakah mencantumkan keterangan bahwa cat yang digunakan bebas timah.

2. Pilih boneka yang mencantumkan label washable. Sementara itu, bahan-bahan kesenian seperti krayon, spidol warna, cat air atau cat minyak harus mencantumkan keterangan nontoxic.

3. Pastikan mainan tidak mengeluarkan bunyi yang terlalu keras untuk telinga anak. Suara bising dari mainan kerincingan, mainan musik, atau mainan elektronik bisa sekeras suara klakson mobil, apalagi jika anak mendekatkannya ke telinga. Mainan tersebut bisa berkontribusi terhadap masalah kerusakan pendengaran.

4. Baca selalu label mainan sebelum membeli untuk memeriksa apakah mainan itu sesuai bagi usia anak Anda. Pertimbangkan temperamen, kebiasaan, serta sifat anak untuk menentukan mainan yang paling tepat baginya.

5. Meskipun anak menunjukkan perkembangan yang lebih maju dibandingkan anak-anak lain seusianya, bukan berarti Anda boleh membelikannya mainan untuk anak berusia lebih tua daripadanya. Sebab, tingkatan usia untuk mainan ditentukan berdasarkan tingkat keamanan, bukan berdasarkan kecerdasan atau kedewasaannya.

6. Cari mainan yang cukup kokoh untuk menahan tarikan dan putaran. Pastikan semua bagian seperti mata, hidung, kancing, dan bagian lain yang gampang copot terpasang dengan kuat.

7. Pastikan mainan untuk diremas, kerincingan, serta mainan untuk gigitan bayi memiliki ukuran cukup besar sehingga tidak muat dimasukkan ke dalam mulut dan kerongkongannya.

8. Hindari mainan bertali karena memiliki risiko anak tercekik karenanya.

9. Hindari mainan plastik tipis yang mudah pecah menjadi potongan-potongan kecil dan meninggalkan tepian yang bergerigi tajam.

10. Hindari kelereng, koin, atau bola yang memiliki diamater kurang dari 4,4 cm karena memiliki bahaya tersedak. (OL-08)

sumber: www.mediaindonesia.com

Tip Cerdas Pilih Makanan Bayi


SAAT ini, tersedia banyak pilihan makanan yang lezat dan sehat untuk bayi. Akan tetapi, tidak semua jenis makanan tersebut ramah untuk bayi (baby-friendly).

Nah, berikut ini adalah daftar makanan yang sebaiknya Anda hindari karena tidak baik untuk kesehatan bayi:

1. Gula, sirup jagung tinggi fruktosa, garam, dan kafein
Tunda memperkenalkan makanan yang mengandung zat-zat tersebut selama mungkin kepada bayi. Hindari makanan yang mengandung zat-zat tersebut sebagai bahan baku.

2. Kaya nitrat
Bit, wortel, buncis, bayam, dan hot dog, ham sosis, salami dan berbagai makanan olahan daging lainya sebaiknya diperkenalkan kepada bayi yang berusia delapan bulan ke atas.

3. Mengandung bakteri
Madu dan makanan yang tidak melalui proses pasteurisasi (misalnya sari apel), blue cheese, dan ikan mentah sebaiknya diperkenalkan kepada bayi berusia di atas 12 bulan.

4. Pemicu alergi
Buah berry, cokelat, buah-buahan jeruk, susu sapi, putih telur, ikan dan kerang, kacang, kenari dan tomat merupakan sejumlah makanan yang dapat memicu alergi. Perkenalkan kepada bayi jika usianya sudah di atas 12 bulan, atau lebih dewasa daripada itu. Hindari juga makanan olahan yang mengandung zat penyedap, pengawet, dan pewarna buatan.

5. Penyebab tersedak
Kacang-kacangan, selai kacang, caramel, permen, permen karet, anggur, buah-buahan dan sayur mentah dan keras, potongan daging, daging asap, hot dog, kwaci, popcorn, kismis, dan keripik kentang, sebaiknya diperkenalkan kepada bayi jika usianya sudah menginjak 2-3 tahun.

6. Bersuhu panas
Semua makanan sebaiknya disajikan dalam keadaan dingin pada temperatur ruangan, atau suam-suam kuku. Perkenalkan sejak bayi berusia 2-3 tahun. (OL-08)

Penulis : Yulia Permata Sari
sumber: www.mediaindonesia.com